PENGGOLONGAN DAN BAGIAN ASHABUL FURUDH DALAM HUKUM KEWARISAN ISLAM

18 06 2010

BAB I

PENDAHULUAN

Kematian atau meninggal dunia adalah suatu peristiwa yang pasti akan dialami oleh setiap manusia, karena kematian merupakan akhir dari perjalanan kehidupan seorang manusia. Namun yang menjadi permasalahan adalah jika orang tersebut meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang lazim disebut harta warisan ataupun tirkah, dengan cara apa kita hendak menyelesaikan atau membagi harta warisan tersebut, hukum apa yang akan kita terapkan dalam penyelesaian harta warisan itu.

Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia, bahkan dalam hal yang berkaitan dengan peralihan harta yang ditinggalkan seorang manusia, setelah manusia tersebut meninggal dunia. Hukum yang membahas tentang peralihan harta tersebut dalam ilmu hukum disebut hukum kewarisan, atau dikenal juga dngan hukum faraid.

Hukum kewarisan dapat diartikan sebagai seperangkat ketentuan yang mengatur cara-cara peralihan hak dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada orang yang masih hidup yang ketentuan-ketentuan tersebut berdasarkan pada wahyu Ilahi yang terdapat dalam al-Qur’an dan penjelasannya yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, dalam istilah arab disebut Faraidh. Pasal 171 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam mendefinisikan:

“Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris “.

Dari kedua definisi tersebut dapat diketahui bahwa hukum kewarisan Islam merupakan hukum yang mengatur tentang peralihan kepemilikan harta dari orang yang telah meninggal dunia kepada orang yang masih hidup (yang berhak menerimanya), yang mencakup apa saja yang menjadi harta warisan, siapa-siapa saja yang berhak menerima, berapa besar forsi atau bagian masing-masing ahli waris, kapan dan bagaimana tata cara pengalihannya.

Para pihak yang berhak menerima warisan ada golongan yang disebut Ashabul Furudh. Para ahli memiliki kesamaan pendangan mengenai apa yang dimaksud dengan ashabul furudh, yaitu orang-orang yang mempunyai bagian yang pasti dan terperinci sehubungan dengan warisan yang ditinggalkan oleh pewaris. Ashabul furudh ini merupakan golongan tertinggi yang harus didahulukan daripada golongan-golongan yang lain (ashabah nasibiyah atau dzawil arham).

Dalam makalah ini akan coba dibahas mengenai ashabul furudh dan bagian-bagian yang ditentukan untuk para ahli waris yang digolongkan sebagai ashabul furudh tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Landasan Hukum

Yang termasuk ashabul furudh ada sebelas orang. Mereka adalah : suami, istri satu orang atau lebih, ibu, ayah, kakek, nenek satu orang atau lebih, anak perempuan, putri anak laki-laki (cucu wanita dari anak laki), saudari kandung, saudari satu ayah, saudara satu ibu baik laki maupun wanita.

Ketentuan mengenai bagian dari masing-masing ashabul furudh telah diatur dalam al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 11 dan 12 yang artinya :

11. Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[272]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[273], maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

12. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

Keterangan:

[272]. Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (Lihat surat An Nisaa ayat 34).
[273]. Lebih dari dua maksudnya: dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi.

[274]. Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti:
a.  Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka.

b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

B. Bagian Ashabul Furudh

Secara umum, teknik pembagian waris ada dua macam yaitu secara Fardhu dan secara Ta’shib. Pembagian waris secara Fardhu adalah pembagian waris dimana telah ditentukan bagian untuk seseorang secara pasti, sedangkan pembagian waris secara Ta’shib adalah pembagian waris dimana bagian seseorang itu belum pasti dalam artian bagiannya baru diketahui setelah pembagian kepada ahli waris yang lain diselesaikan. Diantara para ashabul furudh terdapat beberapa pihak yang mewaris secara Fardhu, Ta’shib ataupun gabungan dari keduanya (mewaris secara fardhu dan ta’shib. Berikut akan diuraikan mengenai bagian masing-masing ashabul furudh.

1.  Bagian Waris Suami

1.1.        Suami mendapat jatah waris setengah dari peninggalan istrinya jika si istri tidak memiliki keturunan, yang dimaksud keturunannya adalah: “anak-anaknya, baik itu putra maupun putri, cucu dari putranya sampai kebawah” adapun cucu dari putri mereka termasuk dari keturunan yang tidak mendapat waris.

1.2.        Suami mendapat jatah waris seperempat dari istrinya jika si istri memiliki keturunan, baik itu keturunan darinya ataupun dari suami lain. Adapun keturunan yang tidak mewarisi, seperti anak perempuan dari anak perempuan, maka dia tidak mengurangi bagian suami atau isteri.

2.  Bagian Waris Istri

2.1.        Seorang istri mendapat seperempat dari peninggalan suaminya jika si suami tidak memiliki keturunan.

2.2.        Istri mendapat waris seperdelapan dari suami jika dia (suami) memiliki keturunan, baik itu darinya ataupun dari istrinya yang lain.

Adapun Isteri yang ditalak (diceraikan) dengan talak raj’ie itu mewarisi dari suaminya apabila suami mati sebelum habis masa iddahnya. Orang-orang Hambali berpendapat bahwa isteri yang ditalak sebelum dicampuri oleh suami yang mentalaknya di waktu sakit yang menyebabkan kematian, kalau suami mati karena sakit, sedang isteri belum menikah lagi, maka isteri itu mendapat warisan. Demikian pula bila isteri yang ditalak yang telah dicampuri oleh suami yang mentalaknya, selama dia belum menikah lagi, dan berada dalam masa ‘iddah karena kematian suami.

3.  Bagian Waris Ibu

3.1.        Ibu mendapat sepertiga peninggalan dengan tiga syarat: Mayit tidak memiliki keturunan, tidak adanya sejumlah saudara, baik laki-laki maupun wanita.

3.2.        Ibu mendapat jatah seperenam: jika mayit memiliki keturunan, atau adanya sejumlah saudara, baik laki-laki maupun wanita.

3.3.        Mengambil sepertiga dari sisa harta bila tidak ada orang-orang yang telah disebutkan tadi sesudah bagian seorang suami-isteri. Yang demikian itu terdapat dalam dua masalah yang dinamakan gharraiyyah, yaitu Pertama: Bila si mayit meninggalkan suami dan dua orang tua. Kedua : Bila si mayit meninggalkan isteri dan dua orang tua.

4.  Bagian Waris Ayah

4.1.         Ayah mendapat waris seperenam secara fardhu dengan syarat adanya keturunan laki-laki bagi si mayit, seperti putra ataupun cucu dari putranya.

4.2.        Ayah mendapat waris sebagai ta’shib/ashabah jika si mayit tidak memiliki keturunan. Dengan demikian, maka ayah mengambil semua peninggalan bila ia sendirian, atau sisa dari ashabul furudh jika ia bersama seseorang dari mereka.

4.3.        Ayah mendapat waris dengan jalan fardhu dan ta’shib sekaligus jika terdapat keturunan mayit yang wanita, seperti: putrinya atau putri dari putranya (cucu), dalam keadaan ini ayah berhak mendapat seperenam sebagai fardhu dan juga mendapatkan sisa harta sebagai ashabah.

Yang perlu diingat sehubungan dengan keberadaan ayah selaku ahli waris adalah bahwa kedudukan saudara-saudara kandung baik satu ayah ataupun satu ibu, seluruhnya jatuh (tidak mendapat waris) dengan keberadaan ayah atau kakek.

5.  Bagian Waris Kakek

Kakek ada yang shahih dan ada yang fasid. Kakek yang shahih ialah kakek yang nasabnya dengan mayit tidak diselingi oleh perempuan, misalnya ayah dari ayah. Kakek yang fasid ialah kakek yang nasabnya dengan si mayit diselingi oleh perempuan, misalnya ayah dari ibu. Kakek yang shahih mendapatkan waris menurut ijma’.

Hak waris kakek yang shahih itu gugur dengan adanya ayah; dan bila ayah tidak ada, maka kakek shahih yang menggantikannya, kecuali dalam tiga masalah:

  1. Ibu dari ayah itu tidak mewarisi bila ada ayah, sebab ibu dari ayah itu gugur dengan adanya ayah dan mewarisi bersama kakek.
  2. Apabila si mayit meninggalkan ibu-bapak dan seorang dari suami-isteri, maka ibu mendapatkan sepertiga dari sisa harta sesudah bagian salah seorang dari suami-isteri. Adapun bila kakek menggantikan ayah, maka ibu mendapatkan sepertiga dari semua harta. Masalah ini dinamakan masalah ‘Umariyah, karena masalah ini diputuskan oleh ‘Umar. Masalah ini juga dinamakan gharraaiyyah karena terkenalnya bagai bintang pagi. Akan tetapi Ibnu ‘Abbas menentang hal itu, dan katanya: “Sesungguhnya ibu mendapatkan sepertiga dari keseluruhan harta ; karena firman Allah : ‘dan bagi ibunya itu sepertiga'”.
  3. Bila ayah didapatkan, maka terhalanglah saudara-saudara laki-laki perempuan sekandung, dan saudara-saudara laki-laki serta saudara-saudara perempuan sebapak. Adapun kakek, maka mereka tidak terhalang olehnya. Ini adalah mazhab Asy-Syafi’i, Abu Yusuf, Muhammad dan Malik. Sedang Abu Hanifah berpendapat bahwa kakek menghalangi sebagaimana ayah menghalangi mereka, tidak ada perbedaan antara kakek dan ayah. Undang-undang Warisan Mesir telah mengambil pendapat yang pertama, dimana dalam pasal 22 terdapat ketentuan berikut :
  • Kakek akan mendapat waris seperenam secara fardhu dengan dua syarat:adanya keturunan mayit, tidak adanya ayah.
  • Kakek akan mewarisi sebagai ashobah jika mayit tidak memiliki keturunan, atau tidak ada ayah.
  • Kakek akan mewarisi dengan fardhu dan ta’shib bersamaan ketika ada keturunan mayit yang wanita, seperti putri dan putrinya putra (cucu).

6.  Bagian Waris Nenek

Bagi nenek yang shahih (nenek yang nasabnya dengan si mayit tidak diselingi oleh kakek yang fasid. Adapun Kakek yang fasid ialah kakek yang nasabnya dengan si mayit diselingi oleh perempuan, seperti ayah dari ibu) ada tiga ketentuan :

6.1.        Nenek yang berhak untuk mendapat waris: adalah ibunya ibu, ibunya ayah, ibunya kakek dan begitulah seterusnya dengan asal wanita, dua orang dari arah ayah dan satu dari arah ibu.

6.2.        Secara mutlak tidak ada jatah waris untuk seluruh nenek jika ada ibu, sebagaimana pula tidak ada waris secara mutlak untuk kakek ketika ada ayah.

6.3.        Waris yang didapat oleh satu orang nenek ataupun lebih adalah seperenam (mutlak) dengan syarat tidak ada ibu.

7.  Bagian Waris anak-anak putri

7.1.         Satu orang putri ataupun lebih akan mendapat waris dengan ta’shib jika ada bersama mereka saudara laki-laki, dengan hitungan untuk laki-laki seperti jatah dua orang wanita.

7.2.        Seorang putri mendapat waris setengah harta dengan syarat tidak adanya muasshib baginya, yaitu saudara laki-lakinya, tidak ada yang menyertainya, yaitu saudarinya yang lain.

7.3.        Dua orang putri ataupun lebih berhak mendapat waris dua pertiga dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih, tidak ada muasshib bagi mereka, yaitu saudara laki-laki mereka.

8.  Bagian Waris Cucu Perempuan (Anak Perempuan Dari Anak Laki-Laki)

8.1.         Seorang cucu perempuan dari anak laki ataupun lebih dari satu akan mendapat waris sebagai ta’shib jika ada bersamanya saudara laki-laki mereka yang sederajat dengannya, yaitu putranya putra (cucu laki).

8.2.        Cucu perempuan mendapat waris setengah harta dengan syarat tidak ada muasshibnya, yaitu saudara laki-lakinya. Atau dalam hal tidak ada yang menyertainya, yaitu saudarinya yang lain, atau tidak ada keturunan mayit yang lebih tinggi derajatnya, seperti putra ataupun putri mayit.

8.3.        Dua orang cucu perempuan ataupun lebih akan mendapat waris dua pertiga dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih. Atau dengan tidak adanya muasshib mereka, yaitu saudara laki-laki mereka, ataupun tidak adanya keturunan yang derajatnya lebih tinggi dari mereka.

8.4.        Satu orang atau lebih dari cucu perempuan mendapat waris seperenam dengan syarat tidak adanya muasshib mereka, yaitu saudara laki-laki mereka, tidak ada keturunan mayit yang lebih tinggi derajat darinya kecuali satu orang putri yang berhak mendapat setengah harta peninggalan, karena mereka tidak akan mengambil seperenam kecuali dengan keberadaannya, begitu pula hukumnya dengan putrinya cucu bersama cucu perempuan dari anak laki, dst.

9.  Bagian Waris Saudari Kandung

9.1.         Seorang saudari kandung mendapat waris setengah dari harta dengan syarat tidak ada yang menyertainya dari saudari lainnya, tidak ada muasshib, yaitu saudaranya, tidak ada asli waris, yaitu ayah atau kakek si mayit, tidak ada keturunan.

9.2.        Beberapa saudari kandung mendapat bagian dua pertiga dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih, mayit tidak memiliki keturunan, tidak ada asal waris yang pria, tidak ada muasshib mereka, yaitu saudara mereka.

9.3.        Seorang saudari kandung ataupun lebih akan menjadi ashobah jika ada bersama mereka muasshibnya, yaitu saudara laki, dengan pembagian untuk laki-laki sama dengan dua bagian wanita, atau ketika mereka bersama keturunan mayit yang wanita seperti putri mayit.

10.  Bagian Waris Saudari se-Ayah

10.1.     Saudari satu ayah mendapat bagian setengah harta dengan syarat tidak ada yang menyertainya dari saudari selainnya, tidak ada muasshib, yaitu saudara laki-lakinya, tidak ada asal waris dari laki-laki, tidak ada keturunan mayit, tidak ada saudara kandung, baik laki-laki maupun wanita.

10.2.     Saudari satu ayah berhak mendapat dua pertiga bagian dengan syarat jumlah mereka dua orang atau lebih, tidak ada muasshib, yaitu saudara laki-laki mereka, tidak ada asli waris laki, tidak ada keturunan, tidak ada saudara kandung, baik laki-laki maupun wanita.

10.3.     Seorang saudari satu ayah atau lebih akan mendapat bagian seperenam dengan syarat adanya seorang saudari kandung mayit yang mendapat bagian setengah dengan fardhu, tidak ada muasshib baginya, tidak ada keturunan mayit, tidak ada asli waris laki-laki, tidak ada saudara kandung, baik itu satu orang ataupun lebih.

10.4.     Seorang saudari satu ayah ataupun lebih akan mendapat waris sebagai ta’shib jika ada bersama mereka muasshibnya, yaitu saudara laki-laki mereka, maka pembagiannya untuk satu orang laki-laki sama dengan dua orang wanita, atau mungkin juga jika mereka ada bersama keturunan mayit yang wanita, seperti putri mayit.

11.  Bagian Waris Saudara Se-Ibu

11.1.      Saudara satu ibu, baik laki-laki maupun wanita mendapat bagian seperenam dengan syarat si mayit tidak memiliki keturunan, tidak ada asli waris yang laki-laki, atau dia hanya satu orang (tidak ada saudara se-ibu lainnya).

11.2.     Saudara satu ibu, baik itu laki-laki ataupun wanita mendapat bagian sepertiga dengan syarat jumlah mereka lebih dari satu orang, mayit tidak memiliki keturunan, atau tidak ada asli waris yang laki-laki.

Sebagai catatan, saudara satu ibu tidak dibedakan antara laki-laki dan wanitanya, laki-laki mereka tidak menta’shibkan wanitanya, bahkan mereka mendapat bagian dengan merata (sama).

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan terjemahannya

Ahmad Azhar Basyir, Hukum waris Islam, 1999, Ekonesia Fakultas Hukum UII, Yogyakarta.

Ahmad Zahari, Tiga Versi Hukum Kewarisan Islam: Syafi’i, Hazairin dan KHI, 2003, Romeo Grafika, Pontianak.

Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ilmu Hukum Waris Menurut Ajaran Islam, tanpa tahun, Mutiara Ilmu, Surabaya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: